Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2015.
Saat itu, saya tinggal bersama Ibu di rumah lama kami, bersama ketiga anak saya. Sejujurnya, itu adalah salah satu masa terberat dalam hidup saya.
Saya tidak punya tabungan. Rumah yang sebelumnya kami tempati terpaksa dijual untuk menutupi utang. Mantan istri telah pergi, dan saya harus membesarkan ketiga anak saya sendiri.
Akhirnya, saya harus meninggalkan rumah itu. Saya membawa ketiga anak, beberapa perabot, dan pakaian seadanya. Hanya sepeda motor yang masih menjadi milik saya.
Dalam keadaan seperti itu, saya mulai memilah barang-barang yang masih bisa dijual. Beberapa aksesori sepeda motor yang sudah tidak terpakai saya tawarkan kepada orang lain. Selain untuk mengurangi barang bawaan, tentu saja saya berharap bisa mendapatkan sedikit uang tambahan.
Suatu hari, seseorang yang mengaku berasal dari sebuah komunitas motor di Malang menelepon saya. Sayangnya, sampai sekarang saya tidak ingat lagi namanya.
Dia mengatakan bahwa dia mendengar saya sedang menjual beberapa aksesori sepeda motor. Katanya, dia tertarik membeli tank cover yang sudah tidak saya gunakan.
Saya menyetujuinya.
Setelah harga kami sepakati, dia kemudian meminta nomor rekening bank saya. Saya memberikannya tanpa berpikir macam-macam.
Beberapa hari kemudian, dia kembali menelepon dan mengatakan bahwa uangnya sudah ditransfer. Saya memeriksa rekening, dan ternyata memang benar. Uang itu sudah masuk.
Saya lalu menghubunginya untuk menanyakan bagaimana barang tersebut akan diserahkan. Apakah saya harus mengirimkannya, atau mungkin dia ingin datang sendiri untuk mengambilnya.
Namun, tidak ada jawaban.
Saya mencoba menghubunginya lagi beberapa hari kemudian. Tetap tidak ada jawaban.
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bahkan, bulan dan tahun pun berlalu.
Awalnya saya mengira mungkin dia sibuk atau ada sesuatu yang membuatnya belum sempat mengambil barang tersebut. Namun, semakin lama, saya mulai memahami sesuatu.
Sepertinya, sejak awal memang bukan aksesori sepeda motor itu yang ingin dia beli.
Mungkin dia hanya ingin membantu saya. Dia memilih cara yang sederhana agar tidak melukai harga diri saya: berpura-pura membeli barang yang sedang saya jual.
Dengan cara itu, dia bisa membantu tanpa membuat saya merasa sedang dikasihani.
Peristiwa itu meninggalkan sesuatu yang sangat berharga dalam diri saya: keyakinan bahwa di dunia ini masih ada orang-orang yang peduli.
Saat itu, ketika hidup terasa begitu berat dan saya merasa harus menghadapi semuanya sendirian, seseorang datang dengan cara yang tidak pernah saya duga. Dia mengingatkan saya bahwa di tengah kesulitan, kita tidak selalu benar-benar sendirian. Ketika kita terjatuh dan merasa tak berdaya, terkadang ada uluran tangan yang datang dari arah yang tidak pernah kita bayangkan.
Sampai hari ini, saya masih tidak tahu siapa sebenarnya orang tersebut. Saya tidak ingat namanya. Saya juga tidak tahu bagaimana harus menghubunginya kembali.
Ada kalanya saya bertanya-tanya, siapa dia sebenarnya? Mengapa dia melakukan hal sebaik itu? Dan bagaimana caranya saya bisa membalas kebaikannya?
Mungkin saya tidak akan pernah menemukan jawabannya. Dan mungkin, saya memang tidak perlu menemukan kembali orang itu untuk membalas kebaikannya.
Kebaikan tidak selalu harus kembali kepada orang yang memberikannya. Terkadang, kebaikan hanya perlu diteruskan.