Sering kali hidup membawa kita pada keadaan yang terasa sulit untuk dihadapi dengan cara-cara yang biasa. Kita menghitung apa yang kita punya, menghitung apa yang masih kurang, lalu mulai memikirkan berbagai kemungkinan untuk menutup kekurangan itu. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa ketika kita merasa tidak lagi memiliki jalan, boleh jadi Allah justru sedang menyiapkan jalan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan?
Bagi Anda yang pernah berada dalam situasi serupa—ketika kebutuhan terasa jauh lebih besar daripada kemampuan—cerita berikut adalah sebuah pengalaman pribadi yang hingga kini masih sulit saya percaya benar-benar pernah terjadi dalam hidup saya. Sebuah pengalaman yang kembali mengingatkan saya bahwa jangan pernah meremehkan Allah. Allah Maha Kaya.
Awal tahun 2025, ketika si bungsu hendak memasuki dunia perkuliahan, saya dihadapkan pada sebuah kenyataan yang cukup membuat dada sesak.
Biaya masuk kuliahnya mencapai lebih dari enam belas juta rupiah. Sementara itu, tabungan yang kami miliki hanya sekitar sembilan jutaan. Artinya, masih ada kekurangan sekitar tujuh juta rupiah.
Saya mulai berpikir tentang jalan keluarnya. Salah satu yang paling masuk akal saat itu adalah mengajukan pinjaman ke koperasi sekolah. Kebetulan, utang saya di koperasi sudah lunas. Bahkan, saat itu saya merasa cukup lega karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kami tidak memiliki utang, baik di koperasi maupun di bank.
Namun, rupanya ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu petang selepas Magrib, saya duduk di teras rumah bersama istri. Entah bagaimana awalnya, pembicaraan kami kemudian sampai pada biaya kuliah si bungsu.
“Berapa biayanya?” tanya istri.
“Enam belas setengah juta,” jawab saya.
“Ada tabungan segitu?”
“Ada, tapi belum cukup.”
“Lalu?”
“Mungkin pinjam koperasi sekolah. Utangku di sana sekarang nol.”
Istri terdiam sejenak. Kemudian terdengar kalimat yang sampai sekarang masih saya ingat.
“Yaa Allah… kapan kita akan benar-benar terlepas dari utang? Baru saja kita bernapas lega karena sama sekali tidak punya utang, walaupun di bank. Tapi sekarang?”
Saya pun terdiam.
Entah mengapa, saat itu dada saya terasa semakin berat. Mata mulai terasa hangat. Bukan semata-mata karena persoalan uang, tetapi karena saya tiba-tiba merasakan betapa panjang perjalanan kami selama ini untuk sekadar sampai pada titik tidak memiliki utang.
Dan sekarang, ketika anak membutuhkan biaya untuk melangkah ke jenjang berikutnya, kami kembali berhadapan dengan kemungkinan yang sama.
Saya mencoba menenangkan istri.
“Pokoknya ada. Insya Allah enggak harus hutang.”
Saya tahu, jawaban itu sebenarnya tidak memberikan solusi apa-apa, lebih seperti sekadar kata-kata untuk menghibur istri sekaligus menguatkan diri sendiri. Saya bahkan tidak tahu bagaimana cara menutup kekurangan tersebut selain meminjam di koperasi sekolah.
Istri kembali bertanya.
“Ada dari mana?”
Saya menghela napas. Dan kemudian, entah dari mana datangnya, saya berkata,
“Sudahlah. Jangan pernah meremehkan Allah. Allah Maha Kaya. Uang sebesar itu bukan apa-apa bagi-Nya. Dan ketika Dia sudah berkehendak, Kun Fayakun. Tidak ada yang mustahil.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Saya tidak pernah merencanakannya. Tidak sedang menyiapkan kata-kata bijak. Mungkin kalimat itu lahir justru karena saya sudah tidak tahu harus menjawab apa lagi. Ketika jalan di depan mata terasa buntu, yang tersisa hanyalah keyakinan.
Setelah itu, kami pun diam. Malam terus berjalan. Hari berganti hari. Dan kehidupan kembali berlangsung seperti biasa.
Sekitar dua bulan sebelum tiba masa pelunasan biaya kuliah, saya mendapat tugas mengawal murid untuk mengikuti sebuah lomba di Penang, Malaysia. Saya berangkat tanpa pernah membayangkan bahwa perjalanan itu akan membawa pulang sesuatu yang sama sekali tidak saya duga.
Pada malam Grand Opening, panitia mengadakan pengundian door prize. Nama demi nama dipanggil. Saya mendengarkannya sambil sesekali mengobrol dengan rekan semeja, tanpa berharap apa-apa.
Sampai kemudian…
Nama saya disebut sebagai pemenang hadiah utama.
Saya sempat tidak percaya. Di atas panggung, ketua panitia menjabat tangan saya dan menyerahkan sebuah tas berbahan kertas sambil berbisik, "Selamat. Ini hadiah mahal," ujarnya. Dengan perasaan campur aduk, saya memeriksa isi tas: Pico 4 Ultra, sebuah perangkat yang saat itu nilainya sekitar sepuluh juta rupiah.
Saya berdiri di atas panggung dengan perasaan campur aduk. Terkejut, senang, sekaligus bingung, tidak yakin akankah perangkat itu bermanfaat bagi saya.
Sekitar dua minggu sepulang dari negeri jiran, perangkat tersebut belum juga saya pakai. Saya semakin yakin bahwa saya tidak telalu membutuhkan barang tersebut. Saya pun bertekad menemui Kepala Sekolah dan menyampaikan niat untuk menjualnya kepada beliau.
Beliau setuju, dengan pertimbangan bahwa salah satu jurusan di SMK kami akan dapat memanfaatkan perangkat tersebut untuk pembelajaran.
Setelah diperhitungkan dengan pajak dan lain-lain, kami menyepakati harga sebesar 7,5 juta rupiah. Ya, tujuh setengah juta. Persis jumlah yang saya butuhkan untuk menutup kekurangan biaya masuk kuliah anak saya.
Saya terdiam, teringat dua bulan sebelumnya, di teras rumah selepas Magrib, saya hanya bisa berkata kepada istri, “Insya Allah ada.” Meskipun saya sendiri tidak tahu dari mana.
Dan ternyata, Allah sudah menyiapkan jawabannya. Bukan melalui jalan yang saya pikirkan. Bukan melalui pinjaman. Bukan melalui hutang. Tetapi melalui sebuah hadiah yang bahkan tidak pernah saya bayangkan akan saya terima. Alhamdulillah.
Sampai sekarang, ketika mengingat peristiwa itu, saya masih sering terdiam tidak percaya. Bukan karena saya menganggap mendapatkan sebuah hadiah sebagai sesuatu yang luar biasa, melainkan cara Allah menyusun semuanya.
Kita sering kali sibuk menghitung apa yang kita punya. Sembilan juta ada. Enam belas setengah juta harus dibayar. Berarti masih kurang tujuh setengah juta.
Lalu pikiran kita mulai mencari jalan: pinjam ke sana, berutang ke sini, menjual ini, mengorbankan itu. Kita sibuk menghitung kekurangan. Padahal, bisa jadi, Allah sudah menyiapkan jalan yang bahkan belum terpikirkan oleh kita.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap keinginan akan selalu dikabulkan persis seperti yang kita harapkan. Bukan itu. Tetapi saya semakin percaya bahwa tidak ada yang terlalu besar bagi Allah.
Tujuh juta rupiah mungkin terasa sangat besar bagi kita ketika tabungan hanya sembilan juta. Tetapi bagi Allah, tujuh juta, tujuh puluh juta, bahkan seluruh isi dunia, tidaklah sulit ketika Dia sudah berkehendak.
“Kun Fayakun.”
Maka, ketika kita sudah berusaha, ketika kita menjaga diri agar tetap berada dalam kebaikan dan menghindari keburukan semampu kita, namun kita belum juga menemukan jalan ....
Jangan buru-buru merasa semuanya mustahil.
Boleh jadi, jalan itu memang belum terlihat. Boleh jadi, jawaban itu memang belum datang. Atau mungkin, seperti yang saya alami malam itu, jawabannya sudah disiapkan jauh sebelum kita menyadarinya.
Kita hanya belum sampai pada waktunya.
Dan sejak pengalaman itu, setiap kali menghadapi sesuatu yang terasa berat, saya berusaha mengingat kembali sebuah kalimat yang pernah keluar begitu saja dari mulut saya sendiri:
“Jangan pernah meremehkan Allah. Allah Maha Kaya.”
Kalimat itu bukan sekadar kata-kata penghibur. Ia adalah pengingat untuk saya sendiri:
Jangan pernah meragukan kemampuan Allah hanya karena kita tidak mampu melihat bagaimana Dia akan menolong kita.
