Duduk di tepi cangkir pagi ini, saya teringat percakapan dengan salah seorang murid beberapa waktu lalu. Sebuah keluhan tentang tugas kelompok yang ternyata menyimpan pelajaran besar tentang hakikat diri.
Suatu hari, seorang murid menemui saya dengan nada kecewa. Ia menyatakan keengganannya mengerjakan tugas kelompok. Alasannya sederhana namun klasik: dari lima anggota, hanya dua atau tiga yang benar-benar bekerja. Sisanya? Ia menyebut mereka sebagai "beban."
Ia berbicara panjang lebar tentang ketidakadilan sistem tugas kelompok, tentang betapa lelahnya bekerja lebih keras dari yang lain, dan tentang rasa frustrasinya berada di lingkungan yang tidak sejalan dengan standar kerjanya.
Saya mendengarkan. Sebagai pendidik, keluhan seperti ini adalah lagu lama. Hampir setiap tahun, selalu ada murid yang merasa paling serius, paling bertanggung jawab, dan paling dirugikan dalam kerja kelompok. Dan sering kali, mereka memang tidak sepenuhnya salah. Perasaan mereka memang berdasar pada realita.
Namun, ada satu sudut pandang yang sering kali terlewatkan oleh mereka yang merasa paling lelah karena menjadi yang paling rajin.
Saya katakan kepadanya bahwa sikapnya saat ini keliru. Bukan karena ia ingin bekerja dengan baik—standar tinggi dan dedikasi adalah hal yang patut dihargai. Yang keliru adalah caranya memandang orang lain; seolah ia jauh lebih mulia dan lebih layak dibandingkan teman-temannya hingga ia merasa berhak untuk berhenti berusaha.
Saya sampaikan dengan tenang, "Jika kamu berhenti berbuat baik hanya karena orang lain tidak melakukannya, maka apa bedanya kamu dengan mereka?"
Ia terdiam.
Saya melanjutkan bahwa dalam hidup—jauh melampaui dinding sekolah—kita tidak selalu mendapatkan lingkungan yang ideal. Kita tidak selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik, rajin, atau "sefrekuensi." Sering kali, keadaan justru sebaliknya.
Namun, kualitas seseorang tidak ditentukan oleh lingkungannya, melainkan oleh respons dan sikapnya terhadap lingkungan tersebut. Berbuat baik saat situasi mendukung itu mudah. Tetap berintegritas dan menjadi baik saat keadaan tidak ideal? Itulah ujian karakter yang sesungguhnya.
Saya memotivasinya untuk tetap melakukan yang terbaik. Bukan demi nilai, bukan pula sekadar demi kelompoknya, melainkan demi dirinya sendiri. Demi menjaga martabat dan integritasnya sebagai pribadi yang bertanggung jawab.
Lalu saya katakan kepadanya sebuah kalimat sederhana:
Berlian sejati akan tetap menjadi berlian, meskipun diletakkan di selokan penuh lumpur.
Nilainya tidak berubah. Kilauannya mungkin tertutup, namun hakikatnya tetap sama.
Saya ingin ia memahami bahwa menjadi pribadi yang baik bukan tentang kompetisi moral atau membandingkan diri dengan orang lain, melainkan tentang kesetiaan pada nilai yang kita yakini. Tentang tetap menjadi orang baik, tetap jujur dan bertanggung jawab, serta tetap berusaha—bahkan ketika tidak ada satu pun orang di sekitar kita yang memberikan contoh serupa.
Dalam tugas kelompok itu, mungkin ia merasa berjalan sendirian. Namun sebenarnya, ia sedang mempelajari sesuatu yang jauh lebih berharga daripada materi pelajaran mana pun. Ia sedang belajar tentang kesabaran, kepemimpinan, dan bagaimana tetap tegak tanpa harus merendahkan.
Dan pelajaran-pelajaran seperti itulah yang kelak benar-benar ia butuhkan di dunia nyata. Karena pada akhirnya, hidup memang sering kali terasa seperti tugas kelompok yang tidak adil.
Tidak semua orang bekerja sekeras kita. Tidak semua orang memiliki visi yang sama dan sejalan dengan kita. Namun kita tetap punya pilihan: Menjadi pahit karena keadaan, atau tetap menjadi berlian—apa pun lumpur yang mengelilingi kita.
