Suatu hari, saya sedang mengendarai motor menuju sekolah.
Seperti biasa di jam-jam pagi, lalu lintas padat dengan mereka yang berangkat beraktivitas, entah ke sekolah atau tempat kerja. Di tengah perjalanan, sekitar satu kilometer dari rumah, terjadi kemacetan. Orang-orang berkerumun di pinggir jalan. Saya langsung menduga telah terjadi kecelakaan.
Semua kendaraan harus berjalan merayap. Di lokasi kejadian, di atas aspal, seorang anak perempuan dengan seragam sekolah tergeletak. Beberapa orang berada di sekelilingnya dan berusaha memberikan pertolongan.
Seragam itu saya kenal. Itu seragam di sekolah saya. Saya yakin anak itu adalah salah satu murid saya.
Saya segera menghentikan motor, lalu mendekat sambil mengatakan kepada orang-orang di sana bahwa saya adalah gurunya. Saya berusaha membantu sebisa saya. Saya menopang kepalanya di pangkuan saya dan memastikan dia berada dalam keadaan aman. Saya juga menemukan telepon selulernya dan mengamankannya.
Beberapa saat kemudian, dia mulai sadar. Hal pertama yang dia minta adalah agar saya menghubungi ibunya.
Tidak lama kemudian, ibunya datang ke tempat kejadian. Setelah memastikan anak itu sudah berada bersama ibunya, saya meninggalkan mereka dan melanjutkan perjalanan ke sekolah.
Selesai.
Bagi saya, kejadian itu juga selesai sampai di sana. Saya tidak pernah memikirkannya lagi. Yang saya ingat hanyalah bahwa murid saya baik-baik saja.
Hari-hari berlalu. Tahun demi tahun berlalu. Dan kejadian itu pun semakin jauh dari ingatan saya.
Sampai tiga belas tahun kemudian.
Pada suatu kesempatan yang sekarang bahkan sudah tidak lagi saya ingat, saya bertemu dengan seorang perempuan muda bersama ibunya.
Dia tersenyum kepada saya. Lalu dia berkata,
“Pak Pras, masih ingat saya?”
Sejujurnya, saya tidak tahu siapa dia.
Saya hanya bisa menduga bahwa dia pasti pernah menjadi murid saya. Saya pernah mengajar di lebih dari tiga sekolah dan bertemu dengan ribuan siswa selama bertahun-tahun.
Jadi saya menjawab dengan jujur,
“Maaf, tapi Bapak benar-benar tidak ingat.”
Dia tersenyum.
“Saya dulu murid Bapak. Bapak pernah menolong saya ketika saya mengalami kecelakaan di perjalanan menuju sekolah.”
Saya terdiam.
“Benarkah? Kapan? Di mana?”
Dia kemudian menceritakan kejadian itu. Sedikit demi sedikit, ingatan saya kembali.
Ternyata anak perempuan yang dulu saya tolong di pinggir jalan itu adalah dirinya.
Dan sekarang, tiga belas tahun kemudian, dia berdiri di hadapan saya bersama ibunya, hanya untuk mengingatkan saya pada sebuah kejadian yang sudah lama saya lupakan.
Dia berterima kasih kepada saya.
Saya tidak tahu harus berkata apa selain tersenyum. Bagi saya, kejadian itu hanyalah sebuah pertolongan kecil. Saya tidak pernah merasa telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Saya bahkan sudah melupakannya.
Itulah yang membuat saya merasa perlu menuliskan cerita ini. Bukan untuk mengabadikan pertolongan yang telah saya berikan, melainkan untuk menjadi pengingat bahwa kebaikan sekecil apapun bisa jadi sangat berarti dalam kehidupan seseorang.
Bagi orang lain yang sedang membutuhkan, kebaikan kecil tidak akan hilang begitu saja. Mereka akan menyimpannya rapi dalam ingatan bahkan hingga belasan maupun puluhan tahun sesudahnya.
Pertemuan itu mengajarkan saya sesuatu yang sederhana namun sangat bermakna:
Jangan pernah berhenti atau ragu untuk berbuat baik. Sebab, kebaikan sekecil apa pun bisa jadi sangat berarti bagi kehidupan seseorang.
Kita mungkin akan lupa dan menganggapnya sebagai hal biasa yang tidak berarti. Akan tetapi, kita tidak pernah tahu seberapa besar arti kebaikan itu bagi orang yang menerimanya.
Kebaikan tidak selalu meninggalkan jejak dalam ingatan orang yang melakukannya. Dan mungkin, itulah salah satu hal indah tentang berbuat baik:
Kita tidak harus mengenangnya. Biarlah orang lain yang mengingatnya.
