Ada satu foto yang selalu membuatku berhenti sejenak setiap kali melihatnya. Foto itu diambil pada tanggal 28 Desember 2020, saat Ibu sedang sakit, hampir setahun sebelum dia berpulang pada tanggal 22 Agustus 2021. Wajahnya tampak tenang meski tubuhnya rapuh. Aku ada di sana, dalam pelukannya, dengan masker menutupi sebagian wajahku. Saat itu pandemi memaksa kita melindungi diri serta orang-orang yang paling kita cintai. Dan sampai kini, setiap kali menatap foto itu, ada rasa sesak yang tak bisa dijelaskan — antara penyesalan, kerinduan, dan syukur.
Ibu.... entah mengapa setiap kali melihat tatapan di foto itu, aku merasa beliau masih menyapa. Seolah berkata, “Anakku, tak apa, yang penting kamu baik-baik saja.” Mungkin karena selama hidupnya, Ibu memang selalu begitu — tidak pernah marah terlalu lama, tidak pernah benar-benar jauh. Dalam setiap senyum, nasihat, dan tatapannya, ada kasih yang begitu tenang, begitu luas.
Aku masih mengingat aroma dapur tanah di rumah lama, tempat Ibu sering memasak sepulang aku sekolah. Di sana, aku bermain di dekat tungku, sementara beliau sibuk menyiapkan lauk dan kacang hijau tanpa santan kesukaanku. Aku masih bisa mendengar suaranya memanggil di sore hari, menyuruhku pulang dan mandi sebelum Magrib, dan caranya memuji prestasiku di depan orang lain dengan bangga yang sederhana. Semua kenangan itu kini seperti lembaran doa yang tidak pernah pudar.
Menjelang akhir hidupnya, Ibu masih seperti dulu — hangat dan penuh perhatian. Setiap aku datang menjenguk di sela pekerjaan, matanya berbinar, senyumnya tulus. “Eh, anakku… tak bikinkan kopi, ya?” katanya dengan suara yang masih bisa kuingat sampai hari ini. Dan sebelum berpamitan, aku selalu mengecup dahinya, sambil mendengar pesan terakhir yang kini jadi gema abadi di dadaku: “Hati-hati ya, Nak.”
Kini, meski Ibu telah pergi, aku masih bisa merasakan tatapannya yang menyapa — lewat angin sore, lewat aroma kopi, lewat setiap langkah hidup yang kutempuh. Karena kasih seorang Ibu, sejatinya tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya berganti bentuk menjadi cahaya yang menuntun setiap langkah anaknya.
Terima kasih, Ibu. Tatapanmu masih menuntunku hingga hari ini.
— Anakmu
