Kemarin pagi, saya menerima panggilan telepon yang disusul dengan pesan WhatsApp mengatasnamakan Eci Nandita dari KRISBOW Indonesia. Isinya tampak meyakinkan—lengkap dengan alamat kantor, periode kampanye, hingga iming-iming bayaran.
Pesan WhatsApp tersebut berbunyi:
Terimakasih sebelumnya telah berkenan untuk membantu Program/CAMPAIGN kami :
KRISBOW INDONESIA
Jl. Puri Kencana no. 1 Meruya Kembang Selatan, Jakarta Barat - 11610 INDONESIA
Dukung kami di YouTube dan raih hadiah Bapak/Ibu 🙏
1. Kunjungi YouTube kami KRISBOW INDONESIA
2. Klik tombol 【 suka Like 】
3. Screenshot dan kirim ke kami
4. Terima hadiah Rp 10.000 - Rp 30.000 per Like
5. Dapatkan Bonus Cashback s/d 20%, Diskon s/d 80% Promo kilat dan Voucher gratis ongkir keseluruh Indonesia.
6. Pilih metode pembayaran : Transfer Bank atau E-Wallet 【DANA, OVO, GoPay, ShopeePay, LinkAja 】
📅 Periode Campaign : 1-31 Desember 2025 di Seluruh Indonesia
Bantu tingkatkan rating dan popularitas kami !
Untuk memulai Klaim Bonus DISINI dengan cara ketik Format 【 Eci Nandita 】 lalu kirimkan dinomor WhatsApp yang dibawah ini.
Resepsionis Anggun Saputri 📞 Wa.me/6285827858xxx
Terimakasih atas partisipasinya 🙏
🚩 Alarm Bahaya
Berikut ini beberapa hal yang membuat saya curiga terhadap pesan tersebut:- Kampanye “dibayar per Like”
Menawarkan bayaran per Like adalah pola penipuan klasik. Praktik ini juga melanggar Ketentuan Layanan YouTube tentang engagement palsu. Brand yang kredibel seperti KRISBOW tentu akan menghindari cara ini. - Komunikasi tidak profesional
Format pesan campur aduk, emoji berlebihan, serta penggunaan huruf kapital yang janggal. Kampanye resmi perusahaan selalu menggunakan email domain resmi, bukan komunikasi satu arah lewat WhatsApp pribadi. - Tidak ada verifikasi kanal resmi
Tidak adanya tautan ke Website atau media sosial resmi KRISBOW yang terverifikasi, maupun halaman syarat dan ketentuan yang jelas dan legal. - Nomor WhatsApp mencurigakan
Nomor WhatsApp yang digunakan adalah nomor pribadi, bukan akun bisnis terverifikasi. - Nama “Resepsionis” yang dipakai bersifat umum dan tidak dapat diverifikasi. Di samping itu, mengirimkan konten secara buta kepada semua orang juga bukanlah tugas seorang resepsionis 🤣.
- Instruksi aneh: “ketik format nama orang”
Permintaan untuk mengetik nama tertentu (misalnya “Eci Nandita”) adalah taktik yang umum digunakan dalam alur penipuan, sebagai penanda korban atau pemicu skrip otomatis. - Terlalu banyak iming-iming: Uang tunai per Like, Cashback hingga 20%, Diskon hingga 80%, Voucher gratis ongkir. 👉 Pola “bonus bertumpuk” seperti ini sangat khas penipuan.
- Mendesak + manipulatif
Kalimat seperti “Bantu tingkatkan rating dan popularitas kami” serta penyebutan periode kampanye yang terdengar resmi tetapi tidak bisa diverifikasi.
Sekilas terlihat sederhana. Bahkan “tidak berbahaya”. Namun justru di sinilah letak jebakannya.
Iseng, saya balas pesan tersebut dengan langsung menghubungi Anggun Saputri, tanpa menuruti perintah untuk mengetikkan kata yang diminta (Eci Nandita).
“Maaf, saya tidak bisa melanjutkan tanpa konfirmasi tertulis di website resmi KRISBOW atau akun media sosial terverifikasi. Jika tidak ada, saya anggap pesan ini bukan dari KRISBOW Indonesia. Terima kasih.”
Selang beberapa detik, saya menerima balasan yang lebih mirip jawaban otomatis (bot):
“Untuk konfirmasi terlebih dahulu, silahkan kirimkan pesan WhatsApp kepada resepsionis dengan format Eci Nandita setelah itu resepsionis yang akan mengirimkan konten KRISBOW INDONESIA yang akan bapak sukai 🙏”
Fix sudah, ini pasti modus penipuan. Alih-alih menanggapi permintaan konfirmasi saya, kata tertentu justru diminta untuk dituliskan, yang sangat mungkin berfungsi sebagai “script keyword”.
Apa Itu “Script Keyword”?
Dalam banyak kasus penipuan digital, terdapat yang disebut script keyword—kata atau frasa tertentu sebagai pemicu alur penipuan.
Dalam kasus ini, frasa “Eci Nandita” berfungsi sebagai:
- tanda bahwa calon korban patuh instruksi,
- pemicu balasan otomatis (bot atau template),
- sekaligus penanda bahwa nomor kita aktif dan responsif.
Begitu kata itu dikirim, kita secara tidak sadar telah menekan tombol “Start” pada sebuah skema.
Apa yang Biasanya Terjadi Setelahnya?
Urutannya sering kali seperti ini:
- Diminta melakukan tugas ringan (Like, Follow, Screenshot)
- Dijanjikan atau bahkan diberi imbalan kecil
- Lalu ditawari “tugas lanjutan” atau “VIP task”
- Mulai muncul permintaan:
- deposit,
- biaya admin,
- verifikasi dompet digital.
Dan di titik itulah kerugian nyata terjadi.
Konfirmasi Resmi dari KRISBOW
Untuk memastikan dugaan ini, saya kemudian menghubungi akun Instagram resmi KRISBOW. Dan memang benar, jawaban yang saya terima dari pihak KRISBOW menegaskan bahwa pesan tersebut adalah penipuan / phishing:
“Halo Kak, hati-hati penipuan mengatasnamakan Krisbow. Krisbow tidak pernah menyebarkan informasi tentang komisi like postingan produk. Dapatkan informasi resmi Krisbow hanya dari:
- Website resmi: krisbow.com
- Email: krisbow.care@krisbow.com
Untuk keamanan dan kenyamananmu, belanja langsung di store, atau melalui krisbow.com.”
Itulah pesan resmi dari KRISBOW Indonesia. Alhamdulillah, insting, kehati-hatian dan rasionalisme kembali menyelamatkan kita hari ini.
📝 Pelajaran Penting
Mengetik satu frasa saja tidak akan langsung meretas ponsel kita. Namun, itu adalah tanda persetujuan awal—dan penipuan modern seringkali berawal dari rentetan permintaan kecil.
Karena itu, beberapa prinsip sederhana ini penting diingat:
- Perusahaan besar tidak membayar per Like
- Kampanye resmi tidak dimulai dari WhatsApp pribadi
- Instruksi dengan “format khusus” adalah alarm merah
- Transparansi selalu datang sebelum, bukan sesudah, kita diminta patuh
Berhenti sejenak, membaca ulang, dan bertanya “masuk akal atau tidak?” sering kali cukup untuk menyelamatkan kita.
Dalam dunia digital saat ini, kewaspadaan adalah sebuah bentuk literasi. Dan kadang, tidak membalas apa pun adalah keputusan paling cerdas.
☕
Tepi Cangkir — belajar dari hal kecil, agar tak terjebak masalah besar.
