Setiap Jumat, ada satu pemandangan yang selalu membuat hati saya hangat: melihat anak-anak bersemangat pergi ke masjid. Di usia mereka yang masih belia, mereka sudah mengenal jalan menuju rumah Allah. Tidak semua anak diberi kesempatan seperti itu, dan kita patut bersyukur karena mereka tumbuh dekat dengan masjid sejak dini.
Namun, kadang karena mereka belum memahami adab ketika mendengarkan khutbah, obrolan kecil atau candaan antar teman terdengar cukup keras sehingga mengganggu kekhusyukan sebagian jamaah. Bukan karena mereka nakal, tetapi semata karena mereka belum mengerti bahwa khutbah Jumat adalah bagian dari ibadah yang perlu disimak dengan tenang.
Dan itu wajar.
Mereka masih belajar.
Mereka masih membutuhkan bimbingan.
Mereka belum paham bahwa suara kita — meskipun pelan — bisa mengganggu kekhusyukan orang lain.
Sebagai orang dewasa, kita punya peran yang sangat penting: membimbing mereka memahami makna kehadiran di masjid. Bahwa datang ke masjid bukan hanya mengikuti ajakan teman, perintah guru, atau permintaan orang tua. Masjid bukan sekadar tempat berkumpul — ia adalah tempat mereka belajar adab, ketenangan, dan rasa hormat kepada orang yang sedang beribadah.
Wajar jika anak-anak bergurau dan bermain. Dunia mereka memang penuh tawa, energi, dan rasa ingin tahu. Namun betapa sayangnya jika mereka datang ke masjid tetapi tidak mendapatkan pelajaran penting tentang adab — pelajaran yang justru akan menemani mereka seumur hidup: kapan saatnya bercanda, kapan saatnya tenang, dan kapan saatnya memusatkan hati pada ibadah. Bukankah kita semua ingin melihat anak-anak tumbuh menjadi generasi yang santun, beradab, menghormati ibadah, dan menjaga kenyamanan sesama muslim?
Di sinilah peran orang tua sangat berarti. Mengajak anak duduk dekat saat khutbah, menenangkan ketika mereka mulai ribut, memberi contoh dengan sikap tenang, serta menjelaskan dengan lembut bahwa khutbah harus didengarkan — semua itu adalah bentuk cinta, bukan batasan. Tujuannya bukan untuk mematikan keceriaan masa kecil mereka, tetapi untuk mengarahkannya agar tumbuh dengan akhlak yang mulia.
Bayangkan betapa indahnya jika sejak kecil mereka terbiasa menjaga ketenangan masjid. Ketika remaja kelak, mereka memasuki masjid dengan adab: duduk tertib, fokus dalam ibadah, menghormati jamaah lain, serta memahami bahwa masjid adalah tempat yang suci. Betapa bangganya kita ketika mereka tumbuh menjadi remaja dan dewasa yang tahu menghormati masjid, imam, dan jamaah. Dan semua itu berawal dari bimbingan kecil kita hari ini.
Membimbing mereka sejak sekarang adalah investasi untuk masa depan. Setiap kata lembut yang kita bisikkan, setiap teladan yang kita berikan, setiap ajakan untuk tenang saat khutbah — semuanya pelan-pelan akan membentuk akhlak mereka menjadi karakter yang melekat seumur hidup.
Semoga Allah menjadikan upaya kecil kita sebagai amal jariyah. Dan semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya datang ke masjid dengan langkah kaki, tetapi juga dengan hati yang menghormati, mencintai, dan memahami makna ibadah.
Jika tulisan ini sejalan dengan pemikiran Anda, silakan bagikan kepada teman, keluarga, atau grup lingkungan. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi agar kita saling mengingatkan dalam kebaikan dan bersama-sama menciptakan suasana masjid yang kondusif bagi semua jamaah — termasuk anak-anak kita tersayang.
