Google Maps Makin Canggih, Mengapa Kita Masih Perlu Belajar 'Asking for Directions' (Tanya Arah)?

Sebagai guru bahasa Inggris, pertanyaan ini sempat mampir di kepala saya. Di zaman serba digital seperti sekarang, rasanya wajar kalau kita berpikir: untuk apa belajar petunjuk arah manual, Asking for Directions (Tanya Arah), kalau Google Maps bisa menyelesaikan semuanya dalam hitungan detik?

Masih Perlukah Belajar “Tanya Arah” (Asking for Directions) di Era Google Maps?

Keraguan itu tidak salah. Justru masuk akal. Namun, semakin dipikirkan, sambil menyeruput kopi di tepi cangkir, justru di sanalah letak menariknya. Dan saya sampai pada satu kesimpulan: materi Asking for Directions (Tanya Arah) ternyata jauh lebih bermakna daripada sekadar soal menemukan lokasi.

Bukan Soal Sampai di Tujuan, Tapi Cara Berkomunikasi

Google Maps memang sangat membantu urusan logistik: dari titik A ke titik B. Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia lakukan, yaitu mengajarkan manusia cara berkomunikasi.

Melalui materi Asking for Directions (Tanya Arah), fokus utamanya sebenarnya adalah Language Acquisition—melatih siswa menggunakan bahasa secara fungsional sekaligus tetap manusiawi. Di balik kalimat-kalimat sederhana seperti “Excuse me, could you tell me how to get to…”, murid sebenarnya sedang belajar tentang:

  • Kesopanan: Bagaimana menyapa dan bertanya kepada orang asing dengan tutur kata yang santun.
  • Kejelasan: Bagaimana memahami instruksi sekaligus menyampaikannya kembali secara runtut.
  • Ketepatan (Accuracy): Bagaimana menggunakan kosakata spasial (penunjuk arah dan posisi) secara presisi, misal intersection, pedestrian, next to, a block away, turn left, go straight, opposite, dll.
  • Keberanian: Bagaimana melawan rasa canggung untuk memulai interaksi dengan orang baru.

Di sinilah bahasa tidak hadir sebagai sekadar teori, melainkan sebagai alat berkomunikasi dengan orang lain.

Saat Otak Belajar Menyusun Ruang Menjadi Kata

Ada proses mental yang sering luput kita sadari. Mengubah peta visual menjadi penjelasan verbal yang runtut membutuhkan konsentrasi, empati, dan kejelasan berpikir. Di situ, otak dipaksa bekerja lebih dalam:menyusun urutan, memilih kata, dan memastikan pesan sampai dengan jelas.

Ini bukan sekadar soal arah, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu menjelaskan sesuatu agar bisa dipahami orang lain. Keterampilan ini ternyata sangat relevan dengan dunia nyata. Bukan hanya di kelas bahasa, tapi juga di dunia kerja: menjelaskan alur, memberi instruksi, atau sekadar memastikan orang lain tidak salah paham.

Berbeda dengan aplikasi yang kaku, komunikasi manusia penuh nuansa dan membutuhkan kesopanan. Kadang perlu klarifikasi, kadang perlu mengulang, dan hampir selalu menuntut kesabaran dan empati. Dan semua itu hanya bisa dipelajari lewat interaksi nyata.

Pelajaran Kecil yang Relevan untuk Dunia Kerja

Bagi banyak lulusan SMK, khususnya yang bekerja di bidang pariwisata dan hospitality, kemampuan memberi petunjuk arah bukanlah hal remeh. Di hotel, restoran, bandara, atau tempat layanan publik, interaksi semacam ini justru menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.

Dalam kondisi ketika teknologi tidak bisa lagi diandalkan: baterai habis, sinyal hilang, atau aplikasi bermasalah, atau saat seorang turis sekadar ingin bertanya pada manusia, bukan pada layar, kemampuan memberi petunjuk dengan bahasa yang jelas dan ramah menjadi keahlian yang sederhana, tapi bermakna. Kemampuan old-school ini adalah garansi bahwa mereka tetap bisa membantu dan berkomunikasi secara efektif.

Menutup Cangkir, Mengganti Sudut Pandang

Mungkin sudah waktunya kita berhenti memandang materi Asking for Directions (Tanya Arah) hanya sebatas pelajaran tentang mencari lokasi atau jalan belaka.

Sebaliknya, kita bisa memaknainya sebagai latihan berkomunikasi dan menggunakan bahasa lisan dengan jelas, runtut, dan santun—keterampilan yang masih belum bisa digantikan oleh aplikasi apa pun.

Pada akhirnya, teknologi boleh semakin canggih. Namun, kemampuan berkomunikasi tetap menjadi milik manusia. Dan selama manusia masih saling berbicara, selama itu pula pelajaran ini akan tetap relevan.

Prev: Cara Mengunduh Film You-Tube Tanpa Aplikasi Downloader - 060610 01.24pm PV5

Jangan Ketinggalan Berita! Ikuti Kami!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default
Bagikan ke aplikasi lainnya
Salin Tautan Pos