Akhir-akhir ini kita pasti sering melihat teman-teman kita mem-posting foto ke pantai, gunung, kafe, bahkan mall—dengan caption yang hampir sama: “Lagi healing dulu, guys.” 😄
Setiap kali membaca itu, saya tersenyum 🙂. Bukan mengejek—hanya merasa lucu bagaimana satu kata bahasa Inggris bisa berubah makna begitu jauh ketika masuk ke budaya kita.
Dalam bahasa Inggris, healing itu punya nuansa mendalam dan lebih spesifik. Biasanya dipakai ketika seseorang sedang mencoba memulihkan diri dari rasa sakit, stres, atau kejadian yang menekan. Tapi di Indonesia? Tidak perlu trauma. Tidak perlu patah hati. Cukup pingin ngopi di kafe baru — sudah disebut healing 😄.
Kadang saya bertanya:
"Apakah kita sebelumnya memang capek, patah hati, atau stress?"
"Atau kita hanya senang memakai kata yang terdengar lebih estetik?"
Mungkin keduanya. Mungkin tidak. Tapi yang jelas, bahasa memang selalu berkembang mengikuti penggunanya. Dan fenomena healing ini salah satu buktinya.
Yang penting, mau disebut healing, refreshing, atau kabur bentar biar waras sekalipun — selama membuat kita lebih tenang dan bahagia, ya kenapa tidak?
Bahasa boleh berubah.
Yang penting, kita tetap sehat—lahir batin. Jangan lupa ngopi ☕.
