Sebuah refleksi tentang konsistensi, cibiran, dan teknologi yang akhirnya menyapa.
Tahun 2008, saya duduk di depan sebuah PC tua dan mulai belajar tentang blogging. Waktu itu, menulis di blog terasa seperti melempar botol berisi pesan ke tengah samudra—entah akan sampai ke mana, entah akan dibaca siapa. Saya masih ingat beberapa kawan bertanya—lebih tepatnya mengejek—dengan nada setengah mencibir, "Siapa memangnya yang mau baca tulisanmu?"

Saya hanya tersenyum. Dalam hati saya berkata, "Setidaknya, sedikit ilmu yang saya punya tidak berhenti pada diri saya sendiri."
Tahun demi tahun berlalu. Blog Mister Guru tumbuh dalam sunyi. Ada masa ketika angka statistik nyaris tak bergerak—hanya deretan digit yang terasa dingin dan tak bermakna. Namun saya tetap menulis. Saya percaya pada makna berbagi, meski mungkin saat itu hanya saya sendiri yang membaca ulang tulisan-tulisan tersebut, memperbaikinya, lalu membacanya lagi.
Di tengah perjalanan yang penuh naik-turun itu, ada satu momen di tahun 2012 yang masih terasa seperti mimpi. Di antara ratusan peserta, Mister Guru dinobatkan sebagai salah satu dari 8 Best ESL Blogs Worldwide oleh eCollegeFinder & Language Magazine. Saat membaca pengumuman tersebut, saya terdiam cukup lama. Menyadari bahwa blog sederhana itu bisa berada di jajaran blog pembelajaran Bahasa Inggris terbaik di dunia adalah sesuatu yang tak pernah saya duga, namun tiba-tiba datang mengetuk pintu.
Saya bersyukur. Sangat bersyukur. Namun di balik rasa tak percaya itu, ada satu suara kecil yang berbisik bahwa perjalanan ini belum selesai. “Suatu hari nanti, blog ini bukan hanya akan dibaca. Ia harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi siapa pun yang membutuhkannya.”
"Jangan berhenti hanya karena orang lain meragukanmu. Jika kamu percaya pada kebaikan yang sedang kamu lakukan, teruslah melangkah. Hidup bukan tentang tepuk tangan, melainkan tentang kesetiaan pada apa yang kamu yakini benar."
Lalu tibalah tahun 2025. Sesuatu yang dulu terasa seperti angan-angan—sebuah blog yang bukan sekadar kumpulan teks, melainkan ruang belajar interaktif—perlahan mulai menjadi nyata. Mungkin bagi sebagian orang ini terasa terlambat. Namun bagi saya, inilah momen ketika teknologi akhirnya menyusul visi yang saya tanam hampir dua dekade sebelumnya.
Melihat statistik yang kini menyentuh puluhan ribu pengunjung dari berbagai belahan dunia—Amerika, Taiwan, Belanda, Jerman—rasanya seperti menyaksikan benih yang dulu saya siram dalam gelap akhirnya tumbuh, menembus atap, dan menemukan cahaya.
Hari ini, di tahun 2026, mimpi itu benar-benar hidup. Saya baru menyadari bahwa setiap jam yang saya habiskan di depan laptop—bahkan ketika hasilnya belum terlihat—bukanlah kesia-siaan. Semua itu adalah tabungan sunyi yang perlahan menunggu waktunya untuk berbunga.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini.
Bagi yang ingin melihat bagaimana perjalanan teknis ini bermuara, silakan berkunjung ke Mister Guru.